Test and Drive ‘W***ng Pa**a’

Berawal dari acara lari pagi bersama bung Muadz, ritual lari pagi keliling lintasan sabuga dilaksanakan sebanyak empat pusingan. Yeah, hari itu adalah hari yang sangat cerah, sampai saking cerahnya, langit saat itu sama sekali tak berawan. Dehidrasi dan kelaparan segera melanda diri kami. Setelah beberapa saat spap cuap, dan searching gadis dara manis yang tak kunjung datang, kami akhirnya memutuskan untuk cap-cus.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk mencari spot guna mengisi perut. Berhubung orkes keroncong di perut kami saat itu sudah mulai beraksi. Tempat yang disepakati untuk mengisi perut kami adalah w***ng p**ta. Restoran ini tepat terletak di seberang ITB. Konon katanya, restoran ini baru dibuka oleh sang empunya, yakni cheff Ragil? Tanpa ba….bi….bu…lagi kami akhirnya meluncur ke tps. Kesan yang didapat secara overall, nuansa restoran warung pasta ini sangat nyaman dan menenangkan. Sesuai dengan namanya ‘warung pasta,’ restoran ini menawarkan beragam menu pasta aseli italiano. Metode pemesanan berjalan unik, disana kami diharuskan untuk terlebih dahulu memilih bumbu pasta yang akan kami gunakan. Kemudian kami pun harus menentukkan ukuran menu yang akan disantap ( ada ukuran M, L ). Dan yang terakhir kami harus menentukan pasta yang akan kami gunakan, apakah itu fettucini, spaghetti, atau fuccilli dkk.

Bung Muadz memutuskan untuk memesan bumbu chucky flucky, dan saya memesan hmmm…lupa lagi namanya pokoknya ada mushroom2 nya gitu deh. Saya memesan bumbu mushroom itu, yang kemudian dikombinasikan dengan pasta jenis fettucini ( size L tentunya ) ^_^” Oh iya, ada satu hal lagi yang unik, warung pasta menjual minuman yang dapat di refill. Beberapa menit berselang, pesanan kami datang. Setelah dimakan, ummm….kok agak hambar yah? Yeah, fettucini saya kok hambar. Saus krim pasta dengan rasa yang datar-datar saja, ditambah jamur yang gak bisa beraliansi dengan saus krim tersebut. Pasta instant aja bisa lebih enak dari ini, ‘pikir saya.’ Jadi ingat sama makanan rumah sakit yang hambar, gak pake garem atau gula, boro-boro keju, ngarep. Karena udah terlanjur laper, hajar bleh ajah dicampur sama sambel. Rugi-rugi, ternyata benar kabar angin yang menyebar, w***ng p*sta emang pasta rasa warung. Dari sepuluh bintang saya kasih enam deh, dengan nilai plus di tempat dan refill drinknya. Oh iya, pajaknya 15%.

( ini merupakan penilaian pribadi, untuk lebih jelasnya coba sendiri )

~ oleh enamdelapan di/pada Juli 28, 2009.

Tinggalkan Balasan